Rabu, 18 April 2012

Siapa Peduli Kaum Buruh?

Hai pembesar lihatlah kami yang tersenyum isak kepadamu
Hai pembesar dengarlah rintihan kami akan perut kami yang belum lagi terisi
Hai pembesar ingatlah kami objek yang kau jadikan janji saat kami memilihmu

Kami….
Berharap banyak padamu

Kami kembali waspada
Kami kembali tak henti berdoa
Agar mentari tersenyum kembali
Dihadapan kami….

Agar kata “sejahtera” bukan lagi mimpi untuk kami…

Begitulah lantunan puisi yang mungkin tepat menggambarkan kondisi para buruh yang kini merasa terancam dengan adanya isu kenaikan BBM. Apa dan mengapa parah buruh terkait dengan adanya isu ini?. Jawabnya adalah dengan adanya kenaikan BBM tentu saja para pengusaha atau pelaku industri akan mengalami lonjakan pengeluaran, mulai dari harga bahan baku yang naik, ongkos transportasi yang naik, juga biaya operasional yang naik. Semua serba naik.
Kenaikan inilah yang nantinya menjadi salah satu penyebab para pengusaha untuk memikirkan jalan lain untuk menekan ongkos pengeluaran perusahaan yang terus naik. Yup, tepat sekali sehubungan dengan apa yang kita perbincangkan di atas, sebagian para pengusaha itu akan memilih cara untuk memberhentikan para karyawannya, atau para buruhnya.
Sesungguhnya bukan hal yang bijak untuk memberhentikan kerja para buruh. Tingkat kesejahteraan yang dimimpikan saja belum semua terpenuhi, misalnya saja tentang masalah upah minimum regional yang biasa dikenal UMR, bukankan masih banyak buruh yang mempertanyakannya dan masih meminta kelayakan hal tersebut?. Well, kembali lagi ke masalah kebijakan perusahaan, kita juga tidak dapat menyalahkan begitu saja, mungkin ini memang opsi yang paling sulit yang harus dipilih. Lalu di mana tindakan pemerintah?....
Apa dan mengapa buruh harus ikut turun ke jalan untuk mengeluarkan aspirasi mereka kepada pemerintah?.. Benarkah ini hanya konspirasi segelintir kaum atau golongan tertentu? Atau memang benar semata untuk memperjuangkan nasib mereka?. Ada baiknya para pengusaha dalam hal ini yang bertindak sebagai pelaku industri duduk berbarengan dan berbica secara hangat dengan pemerintah. Bukankah hak pekerja juga harus dilindungi? Bukankah juga ada hukum yang mengaturnya?..
Jawabnya masih tak pasti…nasib buruh yang tak jelas dengan banyaknya sistem kontrak dan jaminan kesehatan juga menjadi beberapa hal yang harus difikirkan secara bijak dan berkesinambungan. Buruh juga menjadi sendi-sendi perusahaan dapat bergerak, maju, dan terus bekembang. Jadi, bukanlah hal yang wajar jika mereka pun harus dinilai dengan kesejahteraan yang layak dan kesejahteraan bagi mereka harus secepatnya diperjuangkan?.
Berbicara mengenai demonstrasi memang bukan menjadi hal yang asing bagi kita yang tinggal di Negara yang demokrasinya sangat dijunjung tinggi. Demokrasi dan demonstrasi satu paduan yang serasi berjalan seiringan dengan laju menuju kebebasan. Kebebasan yang nantinya bertuju pada kemajuan. Artinya apa? Kita bebas maju bersama demi Bangsa ini, Bangsa yang kita cintai. Menjelaskan perpaduan ini, sangat indah bukan?.
Jelas dengan penjelasan tersebut kita akan melihat suatu keadaan yang tentram, damai, dan sudah pasti indah. Karena apa?, karena semua bertujuan untuk satu, Ya semua bertujuan untuk kemajuan Bangsa. Tapi, apakah ini sesungguhnya?, Inikah realisasinya? Jawabnya kita semua tau dan begitu miris melihatnya. Bukan lagi kata tentram, damai apalagi kata indah yang jauh sekali terucap tapi sebuah gambaran kedaan yang menegangkan, mengaharukan, dan satu kata yang sering kali terucap?...Anarkis….

Isu kenaikan BBM beberapa pekan lalu ikut mewarnai gejolak kaum buruh. Buruh bersama mahasiswa ikut turun ke jalan mengeluarkan aspirasi mereka. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Berpendapat adalah bagian dari demokrasi dan itu hal yang indah. Namun, apakah perlu agenda untuk mengeluarkan pendapat mendapat pengawalan ketat? Jawabnya, membingungkan. Mengapa? Apakah berpendapat itu anarkis atau disertai tindakan anarkis, atau malah saat mengeluarkan kebebasan berpendapat itu ada pihak yang membuat anarkis para pendemo yang berorasi?.
Semua manusia pada dasarnya adalah baik, semua manusia tulus hatinya. Jadi, apakah tidak ada jalan damai yang tidak perlu membuat suasana menjadi tegang? Dan fasilitas umum sebagai benda mati yang tak punya salah pun jadi korban?. Bukankah fasilitas itu bagian dari uang pajak yang artinya uang kita bersama?. Tidak merugikah kita?. Sudah jelas kita sebagai manusia sosial wajibnya duduk bersama, dalam hal ini para pelaku pendapat dan pendengar pendapat. Segala ketentuan dan keputusan memang tak selamanya baik untuk semua pihak, tapi masih ada satu pintu yang terbuka…yaitu, Keputusan baiknya yang mensejahterakan semua pihak….

Kami dan kau pembesar adalah sejalan
Dan kami erat berpelukan
Dan kami bersama engkau
Bersama menatap mentari
Dan bumi kami yang berseri


Dan kata “sejahtera” itu bukan lagi sebuah kata “mimpi” bagi kami…
Damai diantara kami…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar